Bawahan Lebih Rentan Sakit?

Bawahan Lebih Rentan Sakit?

Siapa yang lebih gampang stress, bawahan atau atasan? Banyak orang beranggapan, semakin tinggi posisi / jabatan seseorang dalam pekerjaan, semakin tinggi resiko dia terkena penyakit jantung akibat stress. Hal ini dikaitkan dengan tanggung jawab dan tekanan besar yang harus ditanggung oleh para pemimpin ini. Bawahan bisa saja membuat kesalahan, tetapi yang menanggung akibatnya di belakang, biasanya adalah para atasan. Membawa beban tekanan ini, membuat banyak orang berpikir, para atasan pastilah mendapat tekanan stress lebih besar dari sekedar staf biasa.

Namun sebuah penelitian yang disebut dengan Whitehall Study yang dipublikasikan oleh Dr Jane E. Ferrie dan Dr Ruth Bell pada tahun 2004 menunjukkan, bahwa semakin rendah hirarki posisi kerja seseorang di dalam sebuah perusahaan, rupanya memiliki resiko untuk terkena penyakit jantung lebih tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya tekanan tanggung jawab rupanya tidak terlalu berpengaruh jika dibandingkan dengan kebebasan atas kendali pekerjaannya.

Semakin tinggi posisi seorang pekerja, maka ia semakin memiliki kebebasan dan kendali dalam pekerjaannya, sedangkan semakin rendah posisi seorang pekerja, dia semakin “tak punya pilihan” dan terperangkap dalam kontrol dari atasannya. Apalagi, jika sistem organisasi dan budaya yang dibangun dalam perusahaan / organisasi itu sangat menekankan kepada kekuasaan, otoritas, dan keabsolutan kontrol dari pemimpin. Ternyata kondisi inilah yang memberikan tekanan lebih besar daripada sekedar tanggung jawab pekerjaan.

Penelitian lain yang dimuat dalam British Medical Journal tahun 2003 oleh N. Wagner, G. Fieldman, dan T. Hussey, menunjukkan bahwa seorang pekerja yang memiliki atasan yang menurutnya tidak fair dan semena-mena, memiliki resiko terkena penyakit jantung lebih besar. Secara literal, para pekerja ini mengalami peningkatan tekanan darah setiap kali mereka berinteraksi dengan pemimpin-pemimpin yang menurut mereka “ngaco”. Dengan kata lain, hanya sekedar berinteraksi dengan bosnya, orang-orang ini sudah mengalami stress lebih dulu.

Jadi, semakin tinggi posisi seseorang, semakin kecil kemungkinan dia mendapatkan banyak bos. Apalagi kalau orang itu berada di puncak kepemimpinan. Sedangkan semakin rendah posisi seseorang di sebuah perusahaan, semakin banyak dia memiliki bos, baik bos langsung maupun dari berbagai divisi lain.

Leave a Reply