Kepribadian, Baik Ataukah Buruk?

Kepribadian, Baik Ataukah Buruk?

Apakah kamu dianggap memiliki kepribadian yang baik, ataukah kepribadian yang buruk? Bagaimana cara kita membedakan yang mana kepribadian baik dan mana yang buruk? Banyak orang terjebak pada kebingungan ini dan terburu-buru menilai orang dengan cepat.

“Kamu baik sekali ya!”, “Hebat sekali kamu, sudah diperlakukan begitu, masih aja jadi orang baik banget.”, “Dia memang sabar sekali orangnya, baik sekali.”

Seberapa sering Anda mendengar komentar-komentar seperti itu dan merasa seperti sudah memenuhi kriteria yang diingin-inginkan semua orang, yakni menjadi “orang baik”. Semua orang ingin mendapatkan apresiasi dari orang lain dan ingin dirinya merasa diterima. Akan tetapi, apakah menjadi orang baik sama dengan kepribadian kita baik?

Bagaimana dengan komentar ini, “Iya sih, dia memang baik. Tapi kan seharusnya dia marah kalau diperlakukan begitu.”, “Baik sih, tapi kerjaannya tidak pernah selesai tepat waktu.”, “Orangnya baik, suka minta maaf, tapi apa iya semua bisa diselesaikan dengan minta maaf?”, “Dia sih baik, sabar, tapi aku butuh ketegasan.”, “Aku punya teman pemarah, tapi dia kalau ada apa-apa selalu bisa diandalkan.”

Seringkali kita mengukur kepribadian seseorang berdasarkan seberapa baik dia bersikap. Kalau baik, sabar, sopan, tidak suka menyerang, tidak mudah marah, tutur kata lembut, dan lain sebagainya, itulah kepribadian yang bagus. Benarkah demikian?

APA PENDAPAT PARA AHLI?

Nah, seperti yang kita sama-sama ketahui bahwa para ahlipun tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapatnya bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Menurut Gordon, kepribadian berbicara bagaimana cara seseorang menempatkan diri dan bersikap dalam dunia ini.

Sedangkan Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. (membaca sederet nama-nama ini saja sudah bikin pusing kan?)

Namun, secara sederhana, menurut Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge dalam bukunya yang berjudul Perilaku Organisasi, kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Jadi, bisa dikatakan bahwasebuah kepribadian bersifat netral dan tidak bisa dikatakan baik atau buruk, karena tergantung dari konteks apa yang sedang terjadi.

Misalnya, apakah orang dengan kepribadian ceria dan suka bergaul bisa dikatakan baik? Tergantung kapan sikap itu muncul. Bayangkan jika dalam keadaan meeting formal dengan orang-orang penting, lalu rekan kerja kita tiba-tiba bersikap sok akrab dan bersikap “heboh” dengan alasan untuk menceriakan suasana. Jika orang-orang yang diajak meeting memang “jenisnya” suka yang seperti itu, tentu kepribadian rekan kerja kita itu dianggap baik. Tapi jika yang diajak meeting ternyata ingin keseriusan dan suasana formal, maka kepribadian yang baru saja ditunjukkan itu menjadi buruk.

Jadi, seorang manusia tidak bisa dinilai baik atau buruknya hanya berdasarkan kepribadian saja. Tapi sayangnya, banyak orang salah dalam menggunakan pengetahuan mereka soal kepribadian. Misalnya, kalau kamu mengikuti tes 4 Colors Personality, orang umumnya menilai mereka yang memiliki kepribadian warna merah (The Bold), dianggap sebagai orang jahat dan tidak berprikemanusiaan. Ini adalah anggapan yang keliru karena sebenarnya kepribadian bersifat netral.

Karena itu, jangan menilai seseorang berdasarkan kepribadiannya semata. Nilailah kualitas seseorang berdasarkan karakter yang ia tampilkan.

Nah, kalau kamu bingung apa itu karakter dan apa bedanya dengan kepribadian? Bacalah artikelnya disini.

SHARE:

Leave a Reply