Menyekolahkan Anak di Usia Dini? Perlukah?

Menyekolahkan Anak di Usia Dini? Perlukah?

Fenomena menyekolahkan anak di usia dini memang sedang marak terjadi pada masyarakat modern kota-kota besar di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Berbagai alasan dikemukakan oleh para orangtua muda dalam hal menyekolahkan anaknya di usia dini. Pada masa sekarang ini tidak sedikit sekolah menyediakan kurikulum bahkan untuk anak berusia 0-3 tahun.

Nada-nada prihatin mulai terdengar dari berbagai pihak yang lebih konvensional. Mereka berpendapat bahwa anak-anak jaman sekarang ini rasanya kok kasihan sekali. Dari usia yang sangat muda saja sudah harus bersekolah. Beberapa dari mereka bersikap skeptis dan berkaca dari pengalaman pribadinya. “Ah, dulu saya juga baru bersekolah pada usia tiga tahun bisa-bisa saja, kok. Untuk apa sih sekolah cepat-cepat? Anak-anak akan berkembang dengan baik sesuai umurnya apabila kita mau mengajarinya. Memangnya sekarang untuk masuk SD sesulit itu sehingga harus sekolah sedini itu?” Lalu, mereka juga mulai melakukan berbagai studi ke berbagai sumber mengenai hal-hal negatif yang bisa terjadi apabila menyekolahkan anak pada usia dini.

Sebaliknya, pihak yang agak lebih modern juga memiliki pendapatnya sendiri. Beberapa dari mereka bahkan sudah melakukan riset terlebih dahulu dan memperoleh fakta bahwa pada usia dini tersebut, kapasitas anak untuk belajar memang sedang besar-besarnya. Ada pula yang mengaku khawatir bila tidak menyekolahkan anaknya pada usia dini, anak mereka akan mengalami kesulitan saat akan masuk ke sekolah dasar. Beberapa dari mereka juga mulai menyebutkan sederet daftar mengenai hal-hal positif yang diperoleh dari menyekolahkan anak sejak usia dini. Namun ada pula sebagian dari mereka yang dengan jujur mengaku bahwa mereka terlalu sibuk sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk mengajari anak mereka di rumah, sehingga mereka lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di usia dini. Toh, lebih baik menyekolahkannya daripada menitipkannya pada suster atau saudara, bukan?

Apakah anda merupakan salah satu dari sekian banyak orangtua muda yang sedang galau mengenai manakah yang terbaik bagi buah hati anda? Adakah sebuah jawaban sederhana yang bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya apakah perlu memasukkan anak ke sekolah pada usia yang relatif muda?

 

JADI, BAGAIMANA DONG?

Jawaban yang terbaik bagi sebuah pertanyaan, terutama pertanyaan yang berhubungan dengan manusia adalah sebuah kata klise yang bernama “tergantung”. Ketika kita berhadapan dengan manusia yang sifatnya dinamis, seringkali kita menemukan bahwa jawaban terhadap setiap permasalahan manusia yang terbaik adalah kata “tergantung” ini. “Tergantung” di sini artinya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing keluarga.

Harus diakui bahwa anak-anak pada zaman teknologi sekarang ini seringkali kurang mendapatkan stimulus yang cukup dari orangtua untuk belajar dari lingkungannya seperti pada zaman dahulu.  Dari hal-hal sederhana seperti bermain gadget saat sedang menyusui anak sehingga tidak terjadi interaksi dan building trust yang moderat antara ibu dan anak, orangtua menenangkan anaknya dengan cara memberikannya gadget, orangtua tidak lagi membawa anaknya pergi keluar untuk bermain di taman pada sore hari, atau orangtua tidak lagi membiarkan anaknya bergaul dengan anak tetangga dikarenakan tingkat privasi yang semakin tinggi dan rasa curiga pada masyarakat sekitar, terutama di perkotaan.

Itu hanyalah sebagian kecil dari hal-hal sederhana yang tadinya merupakan sebuah kesempatan bagi anak untuk belajar, namun pada masa sekarang ini hal-hal tersebut tidak lagi dilakukan oleh para orangtua. Selain itu, peran ayah dan ibu sebagai pengasuh juga terkadang menjadi terlupakan dikarenakan tingginya tuntutan ekonomi yang mengharuskan kedua orangtua bekerja, sehingga anak-anak tidak lagi belajar banyak dari rumah. Akhirnya, tidak heran pusat-pusat terapi pun menjadi sangat penuh, mengingat banyaknya jumlah anak yang kurang stimulus tadi.

Jadi, apakah pendidikan usia dini menjadi perlu untuk dilakukan? Kembali lagi apabila memang kondisi keluarga tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pendidikan dan memberikan stimulus yang perlu bagi anak untuk belajar, tentu saja peran pendidikan usia dini menjadi penting. Akan lebih baik apabila anak diserahkan pada ahlinya, daripada dididik oleh orang lain yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh dan mendidik anak dengan  tepat, atau lebih parah lagi, ditelantarkan.

Tentu saja, orangtua yang baik akan selalu berusaha agar dapat menyelenggarakan pengasuhan dan pendidikan kepada anaknya. Namun terkadang setiap keluarga mempunyai situasi dan kondisi yang berbeda-beda, dan disinyalir menyekolahkan anak di usia dini bisa membantu orangtua dalam kasus-kasus demikian. Akan sangat baik sekali apabila lembaga-lembaga pendidikan usia dini ini menjadi mitra atau pembimbing bagi orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak, bukannya menjadi pengganti peran orangtua dalam melakukan tanggungjawabnya. Bagaimanapun juga, keluarga adalah penyelenggara pengasuhan dan pendidikan yang utama bagi seorang anak. Alangkah baiknya bagi perkembangan seorang anak kalau peran ini tidak digantikan oleh siapapun, apalagi pada usia dini.

Yang menjadi berbahaya adalah apabila orang tua mencoba “lepas tangan” karena malas dan tidak mau lagi repot mendidik anak, lalu karena memiliki dana yang cukup, dengan terburu-buru kemudian memasrahkan anaknya kepada pihak sekolah dengan alasan agar mendapatkan yang terbaik. Karena sesungguhnya, pendidikan yang terbaik adalah yang melibatkan orang tua. Karena itu, menyekolahkan anak di usia dini sebenarnya bersifat sekunder dan sebagai support tambahan bagi orang tua.

Pertumbuhan sang anak di usia dini, apabila orang tua terlibat penuh baik dalam hal hubungan emosional, maupun keterlibatan dalam mendidik, akan menciptakan anak yang tidak hanya sekedar pintar dan berpengetahuan, tetapi juga lebih stabil secara kematangan emosionalnya, dan lebih matang dalam bersosialisasi.

jadi, sebelum menyekolahkan anak di usia dini, tanyakan sekali lagi pada diri-sendiri, apakah memang perlu? Atau sebagai sebuah alasan untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab sebagai orang tua?


SHARE:



IKUTI TES MENARIK INI:

Leave a Reply