Kepribadian: Cara Mengkotak-kotakkan Manusia?

Kepribadian: Cara Mengkotak-kotakkan Manusia?

“Eh coba isi alat tes ini deh. Kita jadi tau kepribadian kita.”

“Wah hasil dari tes ini emang gue banget!”

“Nah lho, pantes gue sering berantem sama pacar gue. Kepribadian gue sama dia bertolak belakang banget ternyata.”

Tes kepribadian bukan lagi menjadi hal baru di kalangan masyarakat sekarang ini. Bagi mereka yang bukan berasal dari latar belakang psikologi pun ikut keranjingan untuk mengetahui lebih dalam mengenai diri mereka sendiri.

Bagi begitu banyak orang, mengenal diri sendiri ibarat menyusun puzzle yang tak beraturan. Semakin puzzle itu tersusun rapih, semakin kita bisa melihat gambaran utuh  dari setiap kepingan yang diletakkan secara benar. Menarik untuk dilakukan. Tak pernah bosan untuk diketahui. Selalu tersentak ketika melihat keterkaitannya.

Sekarang ini banyak alat ukur modern yang dipakai untuk mengakses pengenalan diri. Sebut saja DISC, MBTI, 16PF, Strength Finder, Enneagram, True Colors, Hogan, Kiersey Temprament dan masih banyak lagi yang sedang dikembangkan. Namun, seringkali yang terjadi adalah hasil dari alat tes tertentu dipersepsikan menjadi sebuah gambaran atau label yang melekat dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, tidak mengherankan banyak orang melabel orang lain dengan tipe kepribadian tertentu tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah gaya mengkotak-kotakkan manusia.

Pada dasarnya kepribadian adalah gambaran di dalam diri yang menjadikan unik. Memiliki warna sendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain sama persis. Perbedaan nyata yang Sang Pencipta buat untuk meyakinkan kita bahwa kita diciptakan spesial dan bukan produksi massal.

American Psychological Assosiation (APA) mendefinisikan kepribadian sebagai perbedaan individu dalam pola karakteristik pemikiran, perasaan, dan perilaku. Dan untuk menjabarkan perbedaan ini, telah banyak sekali peneliti melakukan riset dan menciptakan sebuah alat ukur yang berharap dapat membedakan secara jelas karakteristik pada manusia. Hingga saat ini, sayangnya tidak ada satupun alat ukur kepribadian yang mampu secara eksplisit menyatakan bahwa hasilnya merupakan yang paling akurat dan menggambarkan diri manusia seutuhnya.

Keberadaan alat ukur psikologis harusnya membantu untuk mengenali pribadi, bukan untuk menciptakan label dalam diri seseorang.

PRINSIP 3A

Ada banyak alat ukur psikologis yang dapat diambil, di website ini juga banyak pilihan yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara data. Namun, bukan berarti satu alat ukur dapat menjabarkan 100% diri kita seutuhnya atau menjadi panduan kita untuk menilai penuh atas diri orang lain.

Justru dengan mengambil semakin banyak alat ukur psikologis, kita semakin paham dan mendalami tentang karakteristik pribadi kita maupun orang lain. Dan bukankah menyenangkan saat kita mengetahui area pengembangan kita dan alasan-alasan mengapa gaya komunikasi kita cocok dengan seseorang tapi tidak cocok dengan orang yang lainnya?

Secara natural, manusia berperilaku sesuai dengan gambaran kepribadian yang unik di dalam dirinya. Banyak aspek yang sudah dapat ditelaah dari sebuah alat ukur psikologis, masih banyak pula yang menunggu untuk dibuka. Sehingga pengenalan kita terhadap kepribadian harusnya bertujuan kepada 3 A: Aware, Accept, Adapt.

AWARE

Tujuan awal dari pengenalan kepribadian adalah untuk menyadari seutuhnya keunikan dalam diri setiap manusia. Seringkali kita berperilaku berdasarkan alam bawah sadar kita. Setiap bangun tidur, kita tidak lagi perlu berpikir untuk melakukan hal apa setelahnya. Secara otomatis kita melakukan apa yang setiap hari kita lakukan. Bisa jadi langsung mencari HP, langsung ke kamar mandi, atau justru bangun dan melamun sesaat. Kita tidak perlu lagi memikirkan semua hal itu secara sadar. Badan kita melakukan semua rutinitas itu secara otomatis.

Dan sayangnya, gaya perilaku dan komunikasi kita sehari-hari pun lebih banyak didorong oleh alam bawah sadar kita. Setiap nada, penekanan, volume suara, gerak tubuh saat berbicara tidak lagi kita atur secara sadar.

Semakin dalam pengenalan kita terhadap kepribadian diri kita sendiri atau orang lain, harusnya membuat kita semakin sadar dalam berperilaku saat berhadapan dengan orang lain. Dan hal itu juga akan membantu kita menyadari secara penuh perilaku dan gaya komunikasi orang lain yang unik dan pasti berbeda dengan diri kita.

Kesadaran penuh ini yang akan membantu kita melihat diri sendiri dan orang lain secara lebih “utuh” dan menghilangkan label atas diri orang lain.

ACCEPT

Tujuan kedua dalam pengenalan kepribadian adalah menerima seutuhnya.

Akan sangat sia-sia jika kita menyadari penuh keunikan diri kita dengan orang lain, namun tidak mampu untuk menerima perbedaan yang ada. Pemahaman kita terhadap kepribadian akan sangat membantu kita untuk menerima karakteristik-karakteristik orang lain yang mungkin berbeda dengan kita.

Seorang teman pernah mengambil sebuah tes kepribadian dan merasa bahwa pribadi yang ideal adalah seseorang dengan tipe kepribadian tertentu. Saat mengetahui hasil tes kepribadiannya tidak menggambarkan kepribadian ideal nya, ia berusaha sedapat mungkin untuk mengubah semua perilaku dan pemikirannya agar serupa seperti karakteristik dalam kepribadian ideal nya. Cukup lama ia berkutat dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sehingga memengaruhi gaya komunikasi dan perilakunya terhadap orang lain.

Kemampuan kita untuk menerima seutuhnya diri kita sendiri dan kepribadian orang lain akan sangat memudahkan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lain terlepas dari mirip atau tidaknya kepribadian kita dengan orang lain.

ADAPT

Tujuan ketiga dan terutama dalam pengenalan kepribadian, yaitu beradaptasi seutuhnya.

Dengan mengetahui apa yang menjadi landasan pemikiran orang lain, mengerti bagaimana mereka merasa dan tidak terkejut dengan pola perilaku mereka, akan sangat membantu kita untuk bertindak sesuai dengan “bahasa” keribadian mereka.

Bayangkan diri kita sebagai warga negara Indonesia dan kita harus berkomunikasi dengan orang yang berwarga negara Amerika. Bahasa apa yang kita gunakan?

Saya rasa tidak mungkin jika kita berkomunikasi dengan bahasa Indonesia jika ia sama sekali tidak mengerti bahasa kita.

Besar kemungkinan kita akan berbicara dengan meggunakan bahasa Inggris, dan kewarganegaraan kita tidak lantas berubah hanya karena kita fasih dan menguasai bahasa Inggris.Ini yang disebut sebagai beradaptasi sepenuhnya.

Dengan mengerti kepribadian, kita akan sangat terbantu untuk mengerti dan berkomunikasi dengan “bahasa” kepribadian lain. Bahkan kita akan dapat membangun kolaborasi dan sinergi yang sangat baik saat beradaptasi dengan “budaya” kepribadian tersebut.

Untuk membangun adaptasi sepenuhnya (adapt) terhadap kepribadian dari orang lain diperlukan kemampuan untuk menyadari seutuhnya (aware) dan menerima seutuhnya (accept) kepribadian yang ada di dalam diri kita dan juga orang lain.

Bayangkan kita berada pada lingkungan dimana setiap orang tidak lagi memakai kepribadian untuk mengkotak-kotakkan orang lain, tapi justru dipakai untuk menyadari, menerima, dan beradaptasi dengan orang lain sehingga mampu menciptakan sinergi tak terbatas dari sebuah relasi.

The beauty of relationship starts from adapting your personality.


SHARE:



IKUTI TES MENARIK INI:

Leave a Reply