Menghadapi Masalah Tanpa Frustasi

Menghadapi Masalah Tanpa Frustasi

Rasanya baru kemarin terdengar berita tentang seorang pria yang bunuh diri secara live di Facebook. Lewat rekaman tersebut diketahui bahwa penyebabnya adalah almarhum ditinggalkan oleh sang istri. Tidak adanya berita lebih lanjut dari sang istri, membuat ia memutuskan mengakhiri hidupnya.

Kasus di atas hanyalah sebagian kecil kasus bunuh diri yang terungkap. Masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang membuat kita merasa teriris dan menyayangkan. Mengapa seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidup karena suatu masalah, sementara ada orang lain dengan masalah yang sama memilih bertahan dan bangkit?

Dalam ilmu psikologi ada istilah yang dapat menjelaskan pertanyaan diatas, istilah itu disebut dengan RESILIENSI. Dalam garis besarnya resiliensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk bertahan dan berjuang menghadapi kesulitan hidup, belajar serta menyesuaikan diri dengan situasi tersebut.Semua orang memiliki kemampuan resiliensi, tapi tidak semua orang memiliki resiliensi yang kuat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi seberapa besar kemampuan resilienai seseorang bisa dilihat dari faktor kemampuan melakukan analisa penyebab masalah. Kemampuan ini berguna untuk mengidentifikasi penyebab sebuah masalah. Jika seseorang menghadapi masalah dan tidak mampu menemukan penyebab masalah secara akurat dan tepat, orang tersebut akan terus terjebak dalam masalah yang sama yang kemudian bisa membuatnya menjadi depresi dan berakhir pada tindakan-tindakan ekstrim, seperti bunuh diri.

Lalu bagaimana cara menganalisa yang tepat saat kita menghadapi masalah, supaya kita bisa meresponi masalah dengan cara yang tepat pula?

Ada 3 dimensi gaya berpikir yang perlu kita perhatikan di dalam diri kita pada saat menghadapi masalah

1. Personal (saya-bukan saya) individu
Dalam gaya berpikir ini hal yang menjadi berbahaya adalah pada saat melimpahkan seluruh sumber masalah pada diri sendiri. Kita berpikir bahwa masalah timbul memang karena kebodohan kita, kecerobahan kita, dll. Kita merasa terbenam karena kesalahan yang kita buat. Padahal, masih ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi sebuah masalah bisa terjadi.

Misalnya: seorang ibu yang sering kali marah terhadap suami dan anak. Sampai akhirnya suami merasa tidak nyaman di rumah, anak lebih memilih bermain di luar. Sang ibu merasa bersalah dengan kebiasaan marah-marahnya, padahal dia sudah sangat berusaha menahan diri dari amarah. Sang ibu merasa frustasi terhadap kondisi keluarganya dan dirinya sendiri. Padahal kenyataannya adalah ibu ini mengalami gangguan hormonal yang membuat emosinya meledak-ledak. Ditambah dengan kondisi fisik yang sering lelah. Masalah amarah si ibu bukanlah masalah kontrol emosional, tapi masalah biologis yang tidak ia sadari. Dengan mengetahui kondisi ini, seharusnya si ibu bisa mentoleransi keadaannya dan fokus memecahkan masalah daripada merasa frustasi dan menyalahkan diri.
2. Permanen (selalu – tidak selalu)
Pernahkah kamu menemukan dirimu berada dalam situasi gagal, lalu kamu berkata pada diri kita sendiri ” Saya selalu gagal. Tidak pernah berhasil.”
Tekanan karena kegagalan yang kita alami sering kali membuat kita berpikir seperti di atas. Merasa SELALU gagal dan melupakan keberhasilan – keberhasilan yang sudah kita lalui.
Jika cara berpikir seperti ini kita beri “makan” dan pelihara, percayalah kita benar-benar akan semakin tenggelam dan mengalami kegagalan lainnya. Buang jauh pikiran seperti ini dan mulai mengapresiasi setiap usaha yang kita lakukan sekalipun yang kita terima tidak sesuai harapan. Mengingat keberhasilan di masa lalu, membantu kita juga untuk membuang pikiran-pikiran yang menjatuhkan.



3. Pervasive (semua-tidak semua)
Melakukan generalisasi satu kejadian buruk untuk menyimpulkan keadaan seluruh hidup kita, tidak jarang sering kita lakukan juga. Satu kejadian buruk dalam hidup kita, kita anggap meruntuhkan SEMUA aspek kehidupan kita. Padahal, jika kita mau melihat lebih jelas, hanya sedikit dari bagian hidup kita yang benar-benar hancur. Itu pun jika kita mau menganalisa dengan sungguh-sungguh, pasti ada jalan keluar untuk menyelesaikannya.

Misalnya, cerita tentang seorang wanita yang memutuskan pertunangan karena pasangannya kedapatan selingkuh. Di usianya yang sudah kepala 3, memutuskan pertunangan terasa seperti kehancuran hidupnya. Dia merasa tidak akan pernah menikah. Tidak akan ada pria yang mau menikahinya. Ia mengabaikan dukungan moral orang-orang sekelilingnya dan tenggelam dalam rasa tak berharga.

Jika wanita ini mau menganalisa dengan cara lebih benar, ia akan melihat bahwa ia memang patah hati, tapi cukup sampai di situ tidak perlu ditambahkan. Dia akan melihat kalau ia masih punya orang-orang yang mencintainya ada di sekelilingnya. Dia akan lebih cepat pulih dan bangkit.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Tiga dimensi di atas jika disederhanakan akan seperti “Buanglah jauh-jauh cara berpikir yang terlalu mendramatisir dan berpikirlah dengan melihat apa adanya sebuah masalah.”
Cara bepikir seperti ini bukanlah cara berpikir yang tumbuh begitu saja, tapi harus dilatih terus menerus. Ada beberapa saran yang bisa dilakukan untuk memperkuat kemampuan analisa penyebab masalah ini:

Menambah pengetahuan kita
Banyak orang menjadi tertekan, frustasi dan memikirkan banyak hal negatif lainnya karena kurangnya pengetahuan. Seperti kasus yang pernah terjadi pada seorang anak SD yang bunuh diri karena mendapatkan menstruasi pertamanya. Ia pikir ia sakit dan tidak mau menyusahkan orang tua. Hal sepele menjadi sebuah masalah jika tidak diketahui kebenarannya.

Menerima masalah dan fokus pada solusi.
Orang-orang yang tertekan cenderung menghabiskan energinya untuk memikirkan siapa yang salah, kenapa bisa salah, bagaimana bisa salah, sampai melupakan bahwa masalah yang ia hadapai harus diselesaikan. Saat masalah tidak selesai, ia tertekan lagi dan mencari kambing hitam lagi. Akan menjadi hal yang lebih baik jika kita menerima sebuah masalah, meluruskannya, dan mencari celah untuk menyelesaikannya. Sekalipun masalah tersebut tidak langsung selesai, minimal kita menggunakan energi kita dengan kesadaran bahwa selalu ada jalan keluar untuk semua masalah.
Menyerap hal-hal baik
Coba perhatikan sekeliling kita. Apakah kita sering bergaul dengan orang-orang yang suka mengeluh, pesimis dan menilai hidup orang lain? Sekalipun kita tidak ambil bagian untuk mengeluh dll, sadar tidak sadar kita terus mendengarkan mereka dan menjadi sama seperti mereka. Kita masih tetap berteman, tapi pastikan untuk kita lebih banyak menggunakan waktu kita bersama orang-orang yang memiliki energi positif dan optimis. Dengarkan hal-hal yang baik. Membaca buku dan artikel-artikel yang membangun.

Bangun pondasi dasar cara berpikir kita dengan hal-hal baik karena hal ini menjadi bekal pada saat menghadapi masalah yang tidak kita duga. Sekalipun mungkin kita sempat gentar, kita tidak akan sampai jatuh.

Bangun cara berpikir kita menghadapi masalah dengan cara yang benar dengan begitu kita berbuat baik pada diri sendiri. Saat kita baik pada diri sendiri, kita akan menjadi orang yang baik pada orang lain juga.


SHARE:



IKUTI TES MENARIK INI:

Leave a Reply