Social Media Menyebabkan Depresi?

Social Media Menyebabkan Depresi?

Social media sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan generasi muda modern. Misalnya, Facebook, salah satu social media yang paling banyak digunakan di Indonesia. Pengguna mayoritas Facebook adalah mereka yang berusia 18-30 tahun.

Tentu saja, social media sudah mengubah cara kita berkomunikasi dan melakukan banyak hal. Bahkan, secara signifikan, Facebook mengubah kultur hidup secara global. Cara orang berbisnis, membangun hubungan, mencari pekerjaan, hingga berkampanye, memprotes pihak-pihak tertentu, dan bahkan menikah! Semuanya bisa dilakukan hanya lewat platform social media.

Namun, pernahkah kamu merasa seperti “terhisap” di dalam interaksi social media. Sebenarnya mentalmu terasa jenuh, tetapi anehnya rasa penasaran terus menggerakkan jarimu untuk “stalking” daru satu status kepada status lain dan dari foto kepada foto yang lain.

 

SOCIAL MEDIA DAN DEPRESI

School of Medicine dari University of Pittsburgh melakukan sebuah penelitian yang mencoba mengetahui bagaimana pengaruh social media terhadap kesehatan mental penggunanya. Penelitian ini dipimpin oleh Brian A. Primack, M.D, Ph.D.

Dr. Primack dan timnya, meneliti 1787 anak muda berusia 19-32 tahun. Mereka diminta untuk mengisi kuisioner yang memetakan pola perilaku digital mereka di social media dan juga diminta untuk mengikuti sebuah tes psikologis untuk mengukur kesehatan mental mereka. Hasilnya, ternyata semakin tinggi dan sering aktifitas seseorang di social media dalam keseharian, mereka juga menunjukkan indikator depresi yang lebih tinggi.

KENAPA SOCIAL MEDIA MENYEBABKAN DEPRESI? Banyak analisa sudah dilakukan dan ada beberapa prediksi yang masuk akal. Saya sendiri juga mencoba melakukan pengamatan dan menemukan setidaknya, ada 3 hal yang bisa membuat social media menyebabkan mood yang tidak baik dan bisa mengarah kepada depresi.

 

  1. GANGGUAN RASA BERHARGA

Semakin hari, social media semakin mengekspos segalanya. Bahkan hal-hal yang tadinya masih ditabukan untuk di”taruh” di social media, kini semakin terkikis dan nyaris semua hal dibagikan di social media.

Maka, ketika kita melihat “postingan” orang lain yang kebetulan kondisinya tampak lebih baik dari kita, maka secara perlahan kita dihantam di bagian keberhargaan diri kita.

Misalnya, teman-teman kita mem’posting’ foto mereka berjalan-jalan ke luar negeri, sementara kita ingin sekali tapi belum sanggup untuk melakukannya. Atau, banyak orang mem’posting’ foto makanan di resto-resto yang tak terjangkau oleh kita, padahal kita sangat menginginkannya. Atau, orang lain mem’posting’ pencapaian-pencapaian / prestasinya, dan membuat kita semakin terintimidasi karena kita tidak bisa mencapai apa yang mereka capai. Atau, orang-orang mem’posting’ gaya berpakaian mereka dan outfit-outfit keren yang kita impi-impikan.

Semuanya bisa menghantam rasa berharga kita tanpa kita sadari. Ketika kita mulai merasa “kenapa aku tidak bisa seperti itu”, maka bibit depresi mulai muncul karena ada banyak hal yang tidak bisa terpenuhi dalam diri kita menciptakan ketidakpuasan atau perasaan tidak terima pada diri kita.

Sebaliknya,

Bagi mereka yang berharap pujian atau reaksi atas “postingan” yang menurut mereka keren, ternyata menuai sedikit reaksi, atau bahkan reaksi yang tidak diharapkan. Ini juga bisa menciptakan gangguan rasa berharga.

Misalnya, kita mem’posting’ foto jalan-jalan kita ke luar negeri, berharap orang-orang terpukau dan mengomentari kita, tetapi ternyata mereka “cuek” saja. Atau, kita membuat status “merajuk” berharap ada banyak orang yang memperhatikan kita, tetapi kita “ditinggalkan sendiri” di status itu dengan minim reaksi. Akibatnya, kita merasa tidak dipedulikan dan merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-teman virtual kita.



  1. DIGITAL BULLYING

Di social media, orang lebih berani untuk berkomentar dan seringkali lebih “lepas kontrol” dalam berkata-kata, karena tidak ada resiko “face to face”. Apalagi, kalau itu orang yang tidak kita kenal, resiko sosialnya menjadi minim, sehingga orang dengan seenaknya bisa mengungkapkan pikirannya dengan cara yang (bisa) tidak sopan.

Itu sebabnya, orang yang tidak siap, bisa terkaget-kaget ketika menerima komentar dari orang lain yang kadangkala bisa sangat menyerang. Belum lagi jika ini dilakukan secara beramai-ramai.

Saya masih ingat ketika ada beberapa status yang saya tulis sebagai sebuah ungkapan dari pencerahan yang baru saya alami. Saya terbiasa untuk membuat quotes-quotes yang lahir dari hasil pengalaman yang baru terjadi.

Maka seperti biasa, ketika ada sebuah kejadian, lalu saya mendapatkan insight dari kejadian itu dan kemudian mengintisarikan menjadi sebuah quote yang saya posting di social media. Menariknya, ada beberapa orang yang kemudian mengomentari quote itu secara negatif (menurut saya) dan menimbulkan rasa tak nyaman bagi saya.

Disinilah saya mengetahui, bahwa jika ini sering terjadi, maka kita bisa terjebak kepada “pertengkaran virtual” yang sebenarnya tidak ada manfaatnya, namun membuat perasaan dan mood kita berantakan. Belum lagi, kalau kita adalah jenis yang aktif suka berkomentar di status-status orang lain yan tidak kita kenal, lalu kita mudah terjebak kepada perdebatan-perdebatan dengan orang yang kita tak kenal.


Baca artikel terkait ini: “Social Media Menumpulkan Kecerdasan Sosial”



SOCIAL EXCLUSSION

Biasanya, semakin seseorang mengalami masalah dalam pergaulan sosial secara nyata, maka biasanya dia semakin “gaul” di dunia social media. Menariknya, kalau kamu mengikuti salah satu tes kepribadian yang bernama 4 colors personality, saya menjumpai orang-orang bertipe “kuning”, yaitu tipe yang paling “gaul” diantara 4 tipe kepribadian yang ada, justru biasanya orang-orang yang makin tidak aktif di platform social media karena mereka lebih menyukai interaksi live atau nyata.

Dan, saya menemui, orang-orang yang memiliki kesulitan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara live, biasanya sangat aktif di dunia virtual sebagai kompensasi untuk kebutuhan mereka dalam bersosialisasi.

Sayangnya, interaksi di social media sangatlah berbeda dengan interaksi di dunia nyata. Energy yang terjadi dalam interaksi nyata, ditambah dengan sentuhan-sentuhan pertemanan yang “real” memberikan kita perasaan nyaman dan “belonging” yang lebih kuat daripada sekedar bertukar chat di dunia virtual.

Inilah yang tidak banyak disadari. Kita pikir, dengan punya banyak teman dan aktif chat di social media, maka kita sudah bersosialisasi. Sebenarnya, justru itu mengisolasi kita dari dunia nyata. Bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yang live. Kita didesain untuk berinteraksi secara nyata. Ketika kita tidak melakukan itu, maka akan muncul gangguan kepada pola perasaan dan mood kita yang ujungnya bisa mengarah kepada depresi.

 

Maka, saran saya, marilah kita sadar dengan pola perilaku digital kita. Mulai membatasi frekuensi dan intensitas kita di dunia maya, serta mulai memperbanyak aktifitas sosial yang nyata dengan orang lain.


SHARE:



IKUTI TES MENARIK INI:

Leave a Reply