Social Media Menumpulkan Kecerdasan Sosial

Social Media Menumpulkan Kecerdasan Sosial

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan bahwa Social Intelligence atau Kecerdasan Sosial merupakan potensi luar biasa yang tidak disadari. Pada artikel tersebut, disebutkan bahwa kecerdasan sosial menjadi kemampuan seseorang untuk memahami perasaan, pikiran, dan perilaku orang lain dan bertindak secara tepat berdasarkan pemahaman tersebut. Kemampuan ini membuat seseorang memiliki manfaat yang dapat membuat dirinya difavoritkan orang di sekitarnya dan pada akhirnya, turut menentukan kesuksesan dan kebahagiaan dirinya.

Jadi, sebenarnya sangat penting untuk melatih kecerdasan sosial sejak dini. Namun, melatih kecerdasan sosial di era digital menjadi tantangan tersendiri. Mengapa? Karena banyak sekali orang yang salah kaprah dalam menggunakan social media; mengganti kehidupan sosial nyata dengan kehidupan di social media. Ketika porsi interaksi kita di social media lebih besar daripada porsi interaksi kita dengan orang lain di dunia nyata, Anda sebenarnya sedang menumpulkan kecerdasan emosi Anda sendiri.

“Bagaimana mungkin itu terjadi? Saya kan juga tetap berinteraksi di dunia maya, bukannya sama sekali tidak berinteraksi. Kok bisa kecerdasan sosial saya menumpul?”

Pertama-tama, mari kita samakan terlebih dahulu pandangan bahwa kecerdasan sosial bukanlah common sense tentang kemampuan berbicara dan menjalin relasi. Kecerdasan sosial adalah potensi manusia yang sudah ada di dalam otak kita sejak lahir.

Dalam buku “Social Intelligence”, Daniel Goleman menyebutkan bahwa manusia memiliki social brain atau otak sosial. Artinya, secara alami manusia sudah terlahir dengan kemampuan untuk bersosialisasi. Hal yang perlu dilakukan hanyalah melatih untuk mengoptimalkan kerja dari otak sosial ini.

Di dalam otak sosial terdapat dua hal yang sangat penting, yaitu mirror neurons dan spindle cells. Neuron dan sel ini akan bekerja secara otomatis ketika seseorang berhadapan dengan orang lain, berinteraksi, mendengarkan suara, dan bersentuhan. Neuron dan sel ini akan menciptakan brain to brain link dengan sel milik lawan bicara kita sehingga tercipta rasa empati dan memahami. Pernah kan kamu merasa ‘klik’ dengan seseorang yang sebenarnya baru saja berkenalan dengan kamu? Nah, saat itulah sebenarnya brain to brain link kalian sudah terjadi.

Semakin sering seseorang berinteraksi, semakin aktif dan lincah neuron dan sel ini dalam bekerja dan menciptakan link dengan lawan bicara kita. Kalau kamu sebelumnya membutuhkan waktu satu jam untuk bisa memiliki percakapan yang mengalir dengan orang baru, maka yang harus kamu lakukan adalah membiasakan diri hingga otak sosial kamu terbiasa. Ketika ia sudah terbiasa, maka pada akhirnya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk memiliki percakapan dengan orang baru lainnya.


Baca juga artikel berkaitan: “Social Media Menyebabkan Depresi?”


APA AKIBATNYA?

Nah, apa yang terjadi kalau porsi interaksi kamu di dunia maya jauh lebih besar daripada di dunia nyata?

Perlu kita pahami bahwa otak sosial kita tidak bekerja dengan optimal ketika membaca status Facebook atau chat di Whatsapp dan meresponnya. Brain to brain link yang ada tidak sebaik ketika kita berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Padahal hal ini yang berperan penting dalam mengasah kecerdasan sosial Anda. Padahal hal ini yang berperan penting dalam menentukan kesuksesan dan kebahagiaan Anda.

Jadi, hal yang harus dilakukan untuk memiliki kecerdasan sosial yang baik adalah bukan dengan banyak-banyakan friends di Facebook atau followers di Twitter dan Instagram. Apa yang harus dilakukan agar kita bisa melatih kecerdasan sosial kita?

Memperbesar porsi interaksi kita di dunia nyata. Batasi waktu penggunaan gadget Anda. Apabila Anda adalah orangtua dari anak balita, sangat penting bagi Anda untuk membatasi penggunaan gadget anak demi melatih otak sosialnya sejak dini.

Melakukan upaya-upaya yang membuat otak sosialnya bekerja dengan aktif dan lancar, seperti membiasakan diri untuk menyapa dan menyempatkan diri untuk mengobrol dengan banyak orang dari berbagai macam latar belakang.

Memastikan bahwa Anda memberikan waktu dan perhatian penuh kepada lawan bicara. Dengan memberikan waktu dan perhatian penuh, kita membiarkan otak sosial kita untuk terbiasa bekerja dan menciptakan link dengan lawan bicara kita. Memberikan waktu otak sosial bekerja untuk menciptakan rasa memahami dan empati sama artinya dengan kita melatih empati kita.

Belajar untuk mendengarkan lebih banyak. Untuk melatih kecerdasan sosial kita, kita harus memberikan waktu dan fokus sehingga terjadi brain to brain link. Dengan demikian, yang harus kita lakukan bukan hanya terus berbicara, tetapi mendengarkan lawan bicara kita menjadi sangat penting.

Selamat berlatih dan semoga keberadaan social media (yang sebenarnya baik) tidak menumpulkan kecerdasan sosial Anda.


SHARE:



INGIN TAHU KECERDASAN SOSIALMU? IKUTI TES INI:

Leave a Reply