Komunikasi Cerdas Dengan L.O.V.E

Komunikasi Cerdas Dengan L.O.V.E

Pola atau cara kita berkomunikasi terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian kita.

Ada pepatah Jawa berbunyi ‘Watuk iso diobati, Watak digowo sampek mati’ (Batuk bisa diobati tetapi Sifat akan terus dibawa sampai mati). Sebagian besar dari kita akan setuju dengan hal ini bahwa sifat atau kepribadian seseorang akan terus melekat dan tidak bisa diubah. Sifat kita ini juga akan berpengaruh di dalam setiap segi kehidupan kita, termasuk dalam pola komunikasi dengan pasangan. Bahkan cara kita berkomunikasi menjadi sesuatu yang ‘otomatis’, tidak kita sadari, terjadi begitu saja dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, sebuah pola yang kita hidupi sehari lepas sehari.

Saya sendiri paling suka dengan pepatah western yang berbunyi ‘There’s a will, there’s a way’ (dimana ada kemauan disitu ada jalan), pun dengan pola kepribadian, dengan pola komunikasi kita yang tidak sehat, akan selalu bisa diubah jika kita mau, jika kita sadar bahwa cara komunikasi kita akan merusak relasi kita, jika kita mau untuk berubah J

Kemauan untuk berubah jadi pribadi yang lebih baik ditambah dengan LOVE akan menghasilkan sebuah pola komunikasi yang efektif, produktif, dan tentu saja sehat J

LOVE dalam pola komunikasi berarti :

L isten

Kita sering mendengar orang bijak berkata “manusia diberi dua telinga dan satu mulut, artinya kita harus sering mendengar daripada berbicara”. Kita menyetujui hal ini namun pada kenyataannya sulit sekali untuk melakukan. Rasanya begitu banyak kata-kata dalam otak kita yang menanti-nanti dan mendesak ingin keluar. Lebih mudah bagi kita untuk terus bicara dan bicara. Inilah awal dari retaknya sebuah hubungan, ketika salah satu (atau bahkan keduanya) telah berhenti untuk mendengar.

Apakah kita secara sadar memiliki keinginan untuk memahami keinginan, ide,  perasaan, dan harapan pasangan kita? Jika iya, yuk kita berlatih untuk LISTEN with all our heart and mind.

Cara berlatihnya bagaimana?

  • Tanamkan dalam hati bahwa pasangan (atau lawan bicara) adalah orang terpenting dalam hidup kita.
  • Setiap kali ada keinginan untuk menyela atau setiap kali pikiran kita melayang ke hal lain pada saat berbicara, cubit diri sendiri sambil berkata dalam hati “Fokusss!! Listeen!! Fokuuss!”
  • Singkirkan semua hal yang bisa menjadi sumber distraksi. Ketika ngobrol dengan pasangan, sebaiknya kita matikan televisi dan jauhkan gadget.

Selamat berlatih untuk LISTEN 🙂 Ingat bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan 🙂

O tentik

Di dalam dunia fashion ada istilah KW super, KW 1, KW 2, dst. KW ini singkatan dari Kwalitas. Namun se super apa pun KW nya, selalu akan beda dengan yang asli. Modelnya mungkin sekilas sama, tapi bisa dipastikan bahwa bahannya, ornamen nya, model jahitannya, hingga penulisan nomer seri ada perbedaan kualitas. Demikian  juga dalam sebuah hubungan, komunikasi yang sehat adalah komunikasi dengan authenticity (asli, otentik). Mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya terhadap pasangan sangatlah penting. Apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, apa persepsi kita tentang sebuah permasalahan. Ungkapkan apabila ada ketidaksetujuan, apabila ada kecemburuan. Tentu saja dengan penuh kelembutan. Dengan cara yang tepat dan di saat yang tepat. Niat baik saja tidak cukup, perlu dibarengi dengan cara yang tepat.

Bagaimana kita belajar menjadi pasangan yang otentik?

Trust each other. Bahwa pasangan kita adalah sparing partner yang tugasnya membuat kita menjadi individu lebih dewasa, menjadi individu yang jujur. Dan belajarlah menerima kritikan atau masukan dengan positif. Karena jika pasangan kita suka baper, kita tentu lama lama malas untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

V erification

Namanya juga manusia, ada kalanya BeTe tanpa sebab, ada kalanya kuatir tentang suatu hal, dan hal-hal tersebut tidak serta merta bisa kita ungkapkan (terhadap pasangan terutama). Namun bisa dipastikan kalau apa yang kita rasakan atau pikirkan pasti terlihat di ekspresi, body language, serta cara kita berbicara. Misal : pagi hari kita bangun dengan mood yang jelek (karena semalam mimpi buruk), tapi kita tidak ingin membicarakan dengan pasangan. Di sisi lain, pasangan pasti bisa melihat kalau wajah kita diliputi mendung. Kemudian pasangan kita tiba-tiba berkata : “kamu itu lho, pagi-pagi udah cemberut, bikin BeTe aja” … aduhhh, gimana perasaan kita?? Sakitnya tuh di siniiii (sambil tunjuk dada) kannn???. Udah kitanya lagi BeTe, ehhhh kena negative sentence dari pasangan, what a badddd morning. Dan sedihnya kadang (atau seringkali) kita juga begitu terhadap pasangan. Kita suka menebak-nebak sendiri ekspresi pasangan lalu mengkait-kaitkan dengan diri kita (kebanyakan sih dengan negative thinking juga, atau bahasa keren nya ya BaPer itu tadi). Kalimat seperti : “kok diem aja sih? Masakanku gak enak ya??” (ngomong sambil cemberut, nada menuduh, dan agak membanting sendok). Sebagai suami pastinya langsung kaget (lagi mikirin tentang kerjaan tiba-tiba disemprot) plus jadi sebel (apa hubungannya coba diem sama masakan??).

Atau … “Hayooo senyum-senyum sendiriii, mikirin mantan ya??” … Waduuhhh duh duuhh … padahal lagi kebayang acara arisan nanti sore bareng ibu-ibu ceria. Bisa ribut itu nanti.

Di sinilah pentingnya verifikasi alias meminta keterangan. Apabila pasangan kita menunjukkan sikap atau ekspresi yang menurut kita aneh (tidak biasa), adalah bijaksana apabila kita bertanya baik-baik : “Yanggg, kenapa sih kok cemberut? Ada yang salah?” ….

“hari ini kamu tampak ceria sekali, ada apa ni?” …

Mungkin pasangan tidak segera bercerita panjang lebar karena satu dan lain hal. Akan tetapi meminta keterangan dengan cara yang baik merupakan cara berkomunikasi sehat dan pastinya akan menghasilkan sebuah komunikasi yang produktif.

Bagaimana melatih verifikasi?

Selalu bertanya dan bertanya. Terlebih kaum istri ya, suka menjebak diri sendiri dan pasangan dalam sebuah asumsi. Dari asumsi lalu dijadikan ilusi dan bisa berdelusi. Stop mulai sekarang! Memang dengan semakin lamanya usia sebuah pernikahan, ada hal hal yang sudah bisa kita tebak dari pasangan. Namun jika ada hal yang tidak pasti, biasakan untuk verifikasi 🙂

E mpathy

Ketika ada teman atau saudara yang sedang berduka, sedang kehilangan orang yang dicintai, hal apa yang biasanya kita lakukan? Rata-rata kita cenderung akan menghibur dengan kata-kata penghiburan, kata-kata penguatan, bahkan nasehat-nasehat. Hal itu tidaklah salah, karena tujuan kita baik, karena kita peduli. Akan tetapi, coba kita berusaha membayangkan bagaimana perasaan kita apabila kita yang sedang berduka? Apa yang paling kita butuhkan? Kalau saya sih, saya membayangkan kalau saya sedang mengalami masa berduka, saya tidak ingin kalimat panjang atau nasehat. Yang paling saya inginkan adalah pelukan serta kehadiran di dalam diam, itu sangattt menenangkan. Oleh karena itu, itulah juga yang selalu saya lakukan ketika mendampingi saudara atau teman yang sedang berduka, saya tidak akan banyak bicara, saya akan memeluk dan menemani. Inilah yang disebut Empati. Bagaimana kita menempatkan diri di sepatu oranglain.

Kira kira apa yang paling dia mau? Apa yang paling dia rasakan? Apa yg sedang ia pikirkan? Dan kita berusaha melakukannya, berusaha memenuhi keinginannya (skill untuk Listen juga diperlukan disini).

Suatu hari suami saya sedang sangat sedih, dia merasa gagal dalam pekerjaannya. Keinginan pertama saya adalah memborbadirnya dengan kata-kata motivasi. Tapi kemudian saya diam sejenak dan berusaha memahami kira-kira apa yang suami saya paling butuhkan? Saya mengasah rasa empati saya. Sikap saya selanjutnya selama seminggu adalah dengan penuh senyum dan kelembutan bersikap biasa, selalu ada disampingnya, tersenyum pada joke-joke nya, memuji setiap perbuatan baik yang dilakukannya walau kecil sekalipun, banyak memeluknya dan mengatakan “i love u”. Pada akhirnya suami saya curhat sendiri tentang perasaan gagalnya dan bagaimana dia merasa sangat nyaman dengan sikap saya yang tidak meng interview nya. Suami merasa sangat dibangun self confident nya lagi dengan perlakuan, pelayanan, dan penghargaan saya.

Belajar empati perlu diawali dari rendah hati. Menempatkan perasaan orang lain (pasangan) sebagai suatu hal berharga yang perlu kita jaga. Berusaha mengenal pasangan lebih dan lebih lagi juga merupakan kunci dari sebuah empati.

LOVE will always find a way.

Selamat berkomunikasi 😉


SHARE:



IKUTI TES MENARIK INI:

Leave a Reply