Mengubah Orang Lain, Bisakah?

Mengubah Orang Lain, Bisakah?

Tidak sedikit dari kita yang pernah berharap untuk bisa mengubah seseorang. Mengubah seseorang tentunya tidak mudah. Katakan saja kita ingin mengubah sifat pasangan kita, atau kita ingin mengubah sifat anak kita atau bawahan kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengubah seseorang yang sejak lahir sudah punya kecenderungan sifat tertentu dan sudah dibentuk sedemikian rupa oleh lingkungannya sejak kecil bahkan sejak masih dalam kandungan? Bukankah ini berati kalau kita ingin mengubah seseorang, kita harus mengubah seluruh cerita kehidupannya, bahkan orangtuanya?

Beberapa dari kita seringkali akhirnya menyerah dalam usaha kita mengubah seseorang dan mulai belajar menerima atau mungkin menghindari orang tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentunya menerima seseorang apa adanya juga bukanlah hal buruk. Namun ketika kita bisa menerima seseorang apa adanya, haruskah kita membiarkan dia apa adanya? Katakanlah anda punya anak yang terikat narkoba. Walau kita bisa mencintai dia apa adanya, apa kita akan membiarkannya terus terikat narkoba?

Kabar buruknya, ternyata menurut ilmu psikologi pun setuju bahwa mengubah seseorang itu sangatlah sulit. Apalagi kalau sudah sampai menjadi kepribadian atau karakter. Namun, kabar baiknya, ternyata kita dapat mempengaruhi atau memodifikasi perilaku seseorang (behavior modification). Menurut teori modifikasi perilaku, perilaku seseorang yang maladaptif (tidak sesuai, tidak diinginkan) dapat dimodifikasi agar lebih adaptif, melalui berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan memberikan Reinforcement dan Punishment.

Prinsip reinforcement dan punishment ini bisa diterapkan secara luas, baik dalam dunia pendidikan, keluarga, organisasi ataupun perusahaan. Bagaimanakah cara untuk mengaplikasikan prinsip ini dalam mempengaruhi perilaku orang lain? Mari kita simak penjelasan berikut ini.

PENGGUNAAN REINFORCEMENT

Reinforcement adalah konsekuensi yang diberikan seseorang dan dapat menyebabkan perilaku tersebut dilakukan atau diulang lagi. Tentunya reinforcement ini digunakan untuk memunculkan perilaku yang sesuai atau diinginkan. Reinforcement sendiri dibagi lagi menjadi Reinforcement Positif dan Reinforcement Negatif.

Reinforcement positif adalah konsekuensi menyenangkan yang diberikan untuk memperkuat perilaku.  Contoh reinforcement positif:

Tangible and Consumable Reinforcer: Pemberian uang, makanan atau barang material ketika melakukan tindakan yang adaptif. Misalnya bonus diberikan bila karyawan berhasil mencapai target penjualan tertentu sehingga karyawan memperbaiki kinerjanya, atau bila berhasil menjawab pertanyaan guru, murid diberikan permen. Pemberian reinforcement ini haruslah dilakukan dengan hati-hati, karena pemberian makanan misalnya, terkadang dapat menimbulkan isu kesehatan, atau pemberian uang pada anak kecil sebagai reward suatu perilaku juga bisa menumbuhkan sifat materialistis pada anak.

Social Reinforcers: Senyuman, pujian, anggukan, perhatian, penerimaan, dan sentuhan kasih sayang. Misalnya senyuman dan pujian guru membuat anak di kelas sering mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gurunya, atau pujian atau penghargaan atasan kepada bawahan membuat bawahan termotivasi untuk bekerja lebih baik.

Activity Reinforcers: Aktivitas menyenangkan diberikan bila melakukan suatu perilaku adaptif. Misalnya: boleh bermain bebas di playground bila anak menyelesaikan soal dalam 1 jam pelajaran, boleh pulang lebih awal dari kantor apabila pekerjaan telah selesai. Tentunya dalam memberikan reinforcement, perlu diperhatikan apakah ada efek samping yang timbul bila reinforcement Misalnya, apakah dengan demikian anak atau karyawan akan terburu-buru menyelesaikan tugasnya dan menghasilkan pekerjaan yang kurang maksimal? Akan lebih baik bila patokan nya bukan hanya waktu melainkan hasil pekerjaannya juga.

Token: berupa penukaran kupon dengan hadiah sesungguhnya bila telah berhasil mencapai target tertentu, misalnya bila telah mengumpulkan poin tertentu dalam perusahaan, bisa jalan-jalan keluar negeri, atau bila telah mengumpulkan 10 stiker berkelakuan baik, akan mendapatkan hadiah dari guru.

Reinforcement Negatif adalah konsekuensi tidak menyenangkan yang diberikan untuk memperkuat perilaku. Misalnya, untuk mencegah dimusuhi oleh karyawan lain, seorang karyawan bersifat ramah, untuk menghindari rasa lapar karena istirahat yang tertunda, seorang anak mengerjakan lembar kerja dengan lebih cepat, untuk mencegah dipotongnya tunjangan kedisiplinan, karyawan datang lebih pagi ke kantor.

PEMBERIAN PUNISHMENT

Selain reinforcement, ada pula yang namanya punishment. Punishment adalah konsekuensi tidak menyenangkan yang diberikan untuk melemahkan perilaku. Jadi bila punishment dilakukan, perilaku yang muncul akan berkurang bahkan hilang. Perilaku yang ingin dilemahkan tentunya adalah perilaku yang maladaptif, tidak sesuai, atau tidak diharapkan. Macam-macam punishment ini adalah:

Hukuman fisik. Misalnya, memukul anak ketika melakukan kesalahan, terapi kejut listrik bagi pecandu rokok atau narkoba, dan lain-lain. Hukuman ini bersifat kontroversial dan berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Hukuman jenis ini dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan fisik maupun psikologis sehingga lebih tepat bila digunakan sebagai pilihan terakhir dan dilakukan hanya ketika terjadi sesuatu yang mendesak atau berbahaya. Bahkan terkadang hukuman ini bisa jadi berkurang efektivitasnya bila sering dilakukan. Misalnya, anak yang sudah terbiasa dipukul akan sulit menurut kelak bila hanya diberikan hukuman yang lebih lemah dari pukulan, misalnya hanya ditegur atau dinasehati.

Teguran, yaitu pernyataan tidak setuju ataupun kritik tajam, seperti : “Tidak, itu buruk!”, “Mengerjakan pekerjaan begini saja tidak becus!”, “Kamu kok bodoh sekali.” Perlu diperhatikan bahwa hukuman ini bila dilakukan terlalu sering malah membuat suatu perilaku yang tidak diinginkan terjadi lebih sering, karena ternyata berdasarkan penelitian, pujian lebih efektif untuk meningkatkan perilaku yang baik daripada teguran untuk menghilangkan perilaku yang buruk. Namun memang semua harus didasarkan pada konteks terjadinya suatu perilaku. Bila perilaku yang ditampilkan sangat berbahaya atau darurat, kita perlu juga menegaskan bahwa suatu perilaku itu tidak benar dan harus bisa berkata jangan atau tidak. Selain itu bisa juga hukuman ini menimbulkan kurangnya rasa percaya diri yang dapat membuat perilaku maladaptif lebih sering dilakukan.

Aktivitas tidak menyenangkan.Hukuman berupa aktivitas tidak menyenangkan yang harus dilakukan bila melakukan suatu perilaku yang tidak dikehendaki. Sebaiknya hukuman yang diberikan berguna dan berkaitan dengan tindakan maladaptif yang dilakukan, sehingga mereka belajar konsekuensi yang logis yang dapat terjadi ketika mereka melakukan sesuatu. Misalnya, menghukum anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga bila berbicara kasar kepada pembantu rumah tangga. Selain itu hukuman ini juga meliputi meminta seseorang mengulang perilaku yang baik menggantikan perilaku buruk yang telah dilakukannya, misalnya anak berjalan dengan kaki berjinjit kemudian diminta mengulang berjalan dengan kaki menapak.

Time Out, Memindahkan seseorang dari lingkungan yang mendukung munculnya perilaku maladaptif ke lingkungan yang tidak mendukung atau mengurangi munculnya perilaku maladaptif. Misalnya: meminta anak berdiri di pojok kelas karena terus mengganggu temannya, memisahkan dua anak yang terus mengobrol selama pelajaran berlangsung, atau memisahkan karyawan yang sering konflik ke dalam tim yang berbeda untuk menghindari menurunnya kinerja tim.

Response Cost, seseorang kehilangan suatu barang atau haknya bila melakukan sesuatu. Misalnya, dikuranginya tunjangan disiplin seorang karyawan tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan, atau guru menahan atau mengambil kursi seorang anak apabila anak tersebut sering berjalan-jalan di kelas ketika pelajaran sedang berlangsung.

Banyak sekali macam reinforcement dan punishment yang bisa digunakan untuk memodifikasi perilaku seseorang. Tapi yang menentukan efektif atau tidaknya suatu reinforcement dan punishment adalah bagaimana orang yang diberikan reinforcement dan punishment meresapi reinforcement dan punishment tersebut, misalnya memberikan hadiah boneka pada anak yang tidak menyukai boneka atau memberi bonus motor pada karyawan yang tidak membutuhkan motor tentunya tidak akan efektif. Terkadang, ada pula karyawan yang sudah terlalu lelah bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup, sehingga hadiah berupa beberapa hari libur bisa lebih efektif daripada memberikan gaji tambahan atau hukuman potongan gaji. Tidak bijak pula menghukum anak yang senang bermain air dengan mengunci nya di kamar mandi.

Pemberian reinforcement dan punishment juga harus spesifik dan konsisten, sesuai dengan yang dijanjikan. Hindari pemberian aturan yang samar seperti “Bila bersikap baik, akan mendapatkan penghargaan”. Sikap baik apa yang kita harapkan? Kapan? Di mana? Penghargaan seperti apa? Semakin spesifik, semakin baik. Bila perilaku baik telah terlihat berikanlah reinforcement sesuai janji, atau bila perilaku maladaptif muncul, berikan punishment sesuai janji. Banyak orangtua hanya sekedar mengancam anak ketika mengatakan akan memberikan punishment, yang membuat anak berani untuk memberontak pada waktu berikutnya. Banyak pula atasan yang kurang tegas menerapkan aturan sehingga diremehkan oleh bawahannya.

Durasi waktu antara perilaku dengan reinforcement dan punishment juga berpengaruh pada efektivitasnya. Memberikan pujian atau penghargaan sesegera mungkin setelah perilaku adaptif akan lebih efektif pada munculnya kembali perilaku yang adaptif tersebut.

Ternyata, berusaha membuat orang lain menjadi lebih baik bukanlah suatu pekerjaan yang sia-sia dan merupakan pekerjaan yang cukup menarik. Walaupun kita tidak bisa mengubah kepribadian seseorang secara keseluruhan, namun kita bisa mempengaruhi atau memodifikasi perilakunya. Dengan menggunakan prinsip reinforcement dan punishment ini, diharapkan kita bisa memodifikasi perilaku orang lain di sekitar kita entah anak kita, pasangan kita, atau rekan kerja kita untuk menjadi lebih baik.

Leave a Reply