Social Intelligence: Kesalahan Dalam Berempati

Social Intelligence: Kesalahan Dalam Berempati

“Apa itu Empati?”

Kalau saya melontarkan pertanyaan ini setidaknya 7 tahun lalu ketika menjadi pembicara di training sekolah, jawaban-jawaban yang diberikan belum terlalu tepat karena peserta kebingungan membedakan empati dan simpati (merasakan emosi tertentu karena keadaan atau situasi yang dialami orang lain). Beberapa tahun ini, peserta-peserta pelatihan yang saya latih tidak terlalu kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka langsung menjawab dengan satu kalimat yang sudah sangat sering kita dengar: “putting yourself in someone else’s shoes” atau merasakan apa yang orang lain rasakan. Jawaban itu benar dan sehari-haripun mereka sebenarnya, kurang lebih, sudah melakukannya. Dan saya yakin begitu juga dengan Anda.

Nah sekarang, coba kita ingat kembali dan merefleksikan praktik empati kita. Pernahkah Anda mendengar kalimat “Ih, gue enggak minta (dibantu) juga kok”, entah itu ditujukan kepada niat baik Anda ataupun orang lain? Kalau iya, pernahkah bertanya-tanya kenapa maksud baik yang sudah dilakukan dengan memikirkan kondisi dia malah tidak dirasa membantu? Jangan-jangan sebenarnya kita melakukan kesalahan dalam berempati?

“Jadi maksudnya kita tidak berempati?”

Bukan tidak berempati. Lebih tepatnya, kita mencoba untuk berempati, tetapi empati yang dilakukan tidak tepat. Saya berikan contoh.

Saya punya seorang teman yang tinggal di luar Jakarta. Suatu kali saya diajak bermain dan menginap ke daerah rumahnya. Saya mengiyakan karena esok harinya saya juga ada pelatihan di daerah tersebut. Karena perjalanan yang cukup jauh, saya tiba di daerah tersebut sangat larut malam. Dengan bermaksud baik menyambut saya sebagai tamu, teman saya dan keluarganya mengajak saya pergi makan. Karena esok harinya saya ada seminar, saya menolak dengan sopan beberapa kali. Akan tetapi, keluarga teman saya tetap bersikeras untuk menjamu saya. Pada akhirnya saya merasa gelisah dan mengantuk selama makan.

Dari cerita di atas, saya bisa merasakan ada niat baik dari keluarga teman saya. Dalam hal ini, mereka mencoba untuk berempati kepada saya sebagai tamu yang datang dari luar kota dan ingin merasa nyaman dan kerasan di kota yang jarang saya singgahi. Sampai di sini, empati yang mereka lakukan dengan definisi “putting yourself in someone else’s shoes” mungkin cukup tepat.

Namun demikian, niatan baik keluarga teman saya pada akhirnya tidak membuat saya merasa “terbantu”. Niatnya membuat tamu merasa nyaman dan diterima malah membuat tamu merasa tidak nyaman dan gelisah. Mereka menjadi salah menerjemahkan kebutuhan saya setelah mencoba untuk “putting yourself in someone else’s shoes”.

Salah menerjemahkan kebutuhan orang lain membuat usaha kita untuk “putting yourself in someone else’s shoes” menjadi sia-sia. Di sinilah letak kesalahan kita dalam berempati.

Pada 2006, Daniel Goleman melalui bukunya menggambarkan kecerdasan sosial melalui 2 komponen besar, yaitu social awareness dan social facility. Social facility berbicara tentang cara kita dalam berkomunikasi. Sedangkan social awareness berbicara tentang bagaimana kita memahami orang lain dan apa yang ada lingkungan di sekitar (misalnya, norma dan aturan). Ketepatan kita dalam berempati (empathy accuracy) adalah salah satu komponen social awareness.

Berbeda dengan empati yang kita pahami pada umumnya, ketepatan empati membuat seseorang benar-benar memahami tujuan dan latar belakang dari apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan demikian, seseorang mampu untuk bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain. Tanpa ketepatan empati, bantuan yang diberikan oleh seseorang dengan niat baik bisa disalahartikan karena orang yang dibantu tidak merasa terbantu atau tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkannya.

“Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa berempati dengan tepat?”

Hal yang umumnya kita lakukan untuk berempati adalah mencoba untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Hal tersebut adalah langkah awal yang sudah tepat.

Langkah berikutnya adalah menerjemahkan apa yang dibutuhkan orang lain setelah kita mencoba merasakan menjadi dirinya. Bagaimana caranya agar kita bisa menerjemahkan dengan tepat?

  • Mengingatkan kepada diri kita bahwa orang lain bukanlah kita. Kebutuhan orang lain belum tentu sama dengan kebutuhan kita walaupun dihadapkan pada kondisi dan situasi yang sama.
  • Mendengarkan pesan yang disampaikan oleh orang lain dengan lebih teliti. Pesan yang dimaksud bukan hanya kata-kata yang dikeluarkan, tetapi juga bagaimana nada bicara, gestur tubuhnya, mimik wajahnya.
  • Bertanya tentang apa yang orang lain butuhkan dan inginkan akan membuat kita jauh lebih paham akan kondisinya. Dengan begitu, kita dapat melakukan hal-hal yang memang dirasakan sebagai bantuan bagi mereka.

Selamat melatih empati kita! Semoga dengan empati yang lebih tepat, kita tidak hanya mampu membantu orang lain, tetapi juga membuat orang lain merasa terbantu. Dengan demikian, Indonesia bisa memiliki masa depan yang lebih cerah dengan banyaknya calon pemimpin masa depan yang pandai untuk menjawab kebutuhan banyak orang.

Leave a Reply