PRACTICAL LEADERSHIP #2: LEADER AT ALL LEVEL Part 1

PRACTICAL LEADERSHIP #2: LEADER AT ALL LEVEL Part 1

Anda tidak perlu menjadi pemimpin secara posisi untuk membuat sebuah perbedaan. Anda tentu bisa membuat perbedaan dan dampak di posisi manapun di dalam sebuah organisasi.

Seseorang dapat saja diberi posisi kepemimpinan, tapi hal itu tidak menjamin bahwa ia dapat memberikan pengaruh kepada orang lain. Yang di dapat bisa jadi hanyalah sebuah posisi, bukan kepemimpinan sejati yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya membuat pengaruh perlu usaha.

Dalam bukunya yang berjudul 360° Leadership, John C. Maxwell menjelaskan bahwa setiap orang sejatinya dapat memberikan pengaruh dimanapun posisi ia berada. Sehingga posisi atau jabatan seharusnya bukan lagi penghalang untuk seseorang memberi pengaruh dan nilai tambah. Justru jika pengaruh dan nilai tambah terus diberikan tanpa memandang posisi, bisa jadi posisi kepemimpinan sesungguhnya akan lebih mudah didapatkan karena teruji secara konsistensi.

Mantan atasan saya di sebuah organisasi pernah berkata bahwa pemimpin itu seperti gerbong paling depan pada kereta. Ia yang akan menentukan semua gerbong di belakang akan mengarah ke jalur yang mana. Tapi pertanyaannya apakah gerbong-gerbong di belakang itu dengan senang hati atau terpaksa mengikutinya?

Ada 4 jenis kepemimpinan yang bisa seseorang lakukan terlepas dari posisinya. Dimana jika diaplikasikan secara tepat dan konsisten, kemungkinan besar jika orang tersebut diberikan posisi kepemimpinan, akan lebih mudah bagi orang-orang yang dipimpin mengikutinya dengan senang hati dan bukan karena keterpaksaan.

Satu. Leading Down – 5%

Memimpin orang yang secara level atau posisi berada di bawah kita hanya membutuhkan 5% dari kekuatan kita. Hal ini didasarkan pada otoritas yang dimiliki oleh orang yang secara posisi lebih ada di atas.

Tak bisa dipungkiri bahwa otoritas memegang penuh kendali. Akan tetapi yang membuat kendali dapat bertahan lama adalah kemampuan pemimpin menyentuh hati orang-orang yang dipimpinnya.

Jika kita adalah seorang staff biasa di sebuah perusahaan dan secara tiba-tiba seorang CEO di perusahaan tersebut secara terburu-buru keluar dari ruangan dan meminta tolong kita memfotokopikan sebuah dokumen penting demi kelancaran meeting, seberapa berani kita mengatakan tidak karena hal itu bukanlah job desc kita?

Atau jika seorang office boy dimintai tolong untuk membuat sejumlah cangkir kopi karena ada tamu, seberapa berani ia menolaknya?

Tidak membutuhkan banyak kekuatan untuk memengaruhi orang lain jika kita punya posisi yang lebih tinggi.

Namun, berikut adalah aplikasi nyata untuk daat melakukan leading down dengan baik:

  • Gunakan kata “tolong” dan “terima kasih”.
  • Tanyakan kesediaan dan hindari intonasi menuntut.
  • Berikan penjelasan yang jelas agar meminimalisir kesalahan atas apa yang akan dilakukan.
  • Tanyakan apakah ada yang bisa Anda lakukan sebelumnya agar ia lebih mudah melakukan hal tersebut.
  • Hargai hasil yang diberikan, dan jangan sugkan memberi masukan secara langsung jika ada hal yang perlu ditingkatkan tanpa menjelekkan hasil yang telah dibuat.
  • Jika diperlukan, jelaskan alasan mengapa ia perlu melakukan hal yang kita minta ia lakukan dan apa untungnya bagi dia.

 

Dua. Leading Lateral – 20%

Akan ada banyak kesempatan untuk kita memengaruhi orang lain yang secara level sama dengan kita. Dan penting bagi kita untuk memberikan alasan mengapa mereka yang secara posisi sama perlu mengikuti kita dan membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kita.

Hal terpenting untuk dilakukan dalam jenis kepemimpinan ini adalah membantu rekan untuk berhasil. Karena jika begitu, tidak hanya organisasi yang akan mendapat keuntungan, tetapi yang paling besar adalah diri kita sendiri.

Langkah praktis untuk melakukan leading lateral dengan baik:

  • Hindari kompetisi, bahwa kita harus lebih baik dari orang lain dalam satu level. Tapi mulainya berkolaborasi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih baik. Dan lakukan bantuan secara senang hati agar pekerjaan dengan hasil yang baik dapat dilakukan bersama. Hindari pemikiran “kerjaanku, kerjaanku – kerjaanmu, kerjaanmu”.
  • Tunjukkan bahwa kita peduli kepada rekan kita dengan berusaha mengenal secara personal. Hindari batasan yang terlalu kaku. Lihatlah rekan sebagai human being dan bukan hanya sekedar human doing.
  • Hargai pendapatnya. Tidak memaksakan pendapat kita yang harus menang.
  • Beri penjelasan mengapa hal ini perlu dikerjakan bersama, dibanding hanya sekedar memberi tugas baru kepadanya. Ingat, kita bukan satu level di atas mereka.

Bukankah gambarannya sangat jelas bahwa kepemimpinan tidak hanya semudah memiliki posisi dan memberikan delegasi atas tugas yang dimiliki? Dan ternyata dampak positif dapat selalu diberikan tanpa memandang posisi dimana kita ada, karena pada kenyataannya pada posisi manapun, pengaruh dapat secara nyata kita berikan.

Dalam tulisan Practical Leadership berikutnya, akan dilanjutkan penjelasan mengenai aplikasi praktis dari 2 jenis kepemimpinan yang lain. Stay tune.

Leave a Reply